Pentingnya Cut Loss (dan hubungannya dengan monyet Capuchin)
Halo! Kami tahu, belum saatnya bicara hal ini, karena di masa bullish ini, even monkey can make money. (monyet pun bisa untung). Tapi mau bagaimanapun juga, ini satu keahlian yang perlu Anda kuasai sebagai trader, yaitu keahlian cut loss.
Anda kalau sudah beberapa bulan di pasar modal pasti pernah paling tidak coba-coba membeli saham-saham “gorengan” yang naiknya cepat, turunnya juga cepat. Pernahkah mengalami beli di puncak harga? Contoh: DOID 1800? ENRG? Pernah? Kenapa Anda tidak cut-loss? Mungkin karena Anda tidak mengetahui seni cut-loss di dalam pikiran Anda, atau Anda tidak mengelola modal Anda dengan baik? Atau kasus lainnya… Anda kecepatan taking profit dan saham tersebut naik terus dan “diluar jangkauan Anda”. Jika begitu, baca terus, namun sebelumnya ijinkan kami membagi sebuah cerita.
Ceritanya bukan tentang manusia, tapi tentang monyet. Ya, monyet. Cerita ini kami ambil dari bab terakhir buku “Superfreakonomics” karya Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner, duo pengarang favorit kami, dan junto sebuah penelitian akademik berjudul “Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?” Anda akan mengerti nanti hubungannya.
Monyet
Seorang ilmuwan yang bernama Keith Chen meneliti sekelompok monyet Capuchin yang lucu dengan memberikan sejenis logam yang ada lubang di tengahnya, seperti uang logam Cina, kemudian memberikan perlakuan khusus, buah anggur, dan makanan. Ilmuwan ini dengan sabar mengajari monyet-monyet tersebut tentang nilai logam tersebut sebagai uang. Kesimpulan dari penelitian berbulan-bulan tersebut secara singkat adalah… monyet pun bisa mengerti nilai uang.
Namun bukan itu yang kami soroti di sini. Yang kami soroti adalah setelah mengerti uang, Chen melanjutkan penelitiannya tentang perilaku monyet tersebut jika dihadapkan dengan dua pilihan yang irasional. Bentuknya undian dengan dua ilmuwan:
- Ilmuwan yang pertama mulai dengan memegang satu buah anggur, kemudian dilakukan undian lempar koin. Jika koin menghadap ke atas, maka si monyet mendapatkan anggur yang dipegang, dan diberikan satu anggur tambahan, jadi satu keping “uang” miliknya bisa ditukar dua anggur.
- Ilmuwan yang kedua mulai dengan memegang dua buah anggur, kemudian sama, dilakukan undian lempar koin. Bergantung pada undian, maka kadang-kadang ilmuwan mengambil satu anggur yang dijanjikan dan hanya membolehkan menukar satu “uang” dengan satu anggur.
Jadi, secara rata-rata, monyet tersebut entah mendapat sebuah anggur atau dua buah anggur. Secara rasional, pilihan pertama dan kedua sebenarnya sama saja… Tapi hal ini yang menarik dan tampaknya irasional. Monyet-monyet tersebut jauh lebih suka (“preferensi kuat”) ilmuwan yang pertama. Tidak rasional!
Manusia
Sekarang kita lanjutkan ke penelitian kedua, yang ini tentang manusia. Untuk menulis artikel “Are Investors Reluctant to Realize Their Losses“, Terrance Odean telah meneliti 10.000 investor
Kesimpulan yang dia ambil: ”these investors demonstrate a strong preference for realizing winners rather than the losers” (terjemahan: investor-investor ini menunjukkan preferensi/lebih suka untuk merealisasikan keuntungan daripada kerugian).
Wah, ternyata perilaku monyet dan investor secara kebanyakan sama tentang uang!
Trader
Setelah Anda baca tulisan di atas, tentu Anda tidak mau disamakan dengan monyet. Lalu, ilmu trading yang benar bagaimana? Cut losses short, let profits run. (terjemahan: potong rugi secepatnya, biarkan laba terus berjalan).
Dalam trading saham, apalagi trend trading, Anda mengikuti sebuah kecenderungan. Sebuah saham yang sedang naik, cenderung untuk terus naik, dan saham yang turun, cenderung terus turun. Dari sini sudah terlihat bahwa sekali Anda salah, maka Anda akan cenderung terus rugi jika tidak cut loss, dan sebaliknya.
Dalam praktek, Anda perlu mengikuti kereta saham yang naik, dan keluar dari saham turun dengan cepat. Setelah naik kereta saham naik tersebut, Anda tinggal berpegangan erat dan average pada titik-titik tertentu, tapi tidak merealisasikan keuntungan. Tapi bagaimana kalau market ternyata melawan Anda? Anda perlu cut loss dengan cepat, karena cut loss pertama adalah yang paling baik. Semakin jauh Anda merugi, semakin tidak ingin Anda cut loss. Ini psikologi manusia (investor), dan monyet. Sama saja!
Istilahnya, Anda malas untuk cut loss. “reluctant to realize their losses”
Pesan moralnya: Jangan malas donk. Ini uang Anda yang sedang berjatuhan nilainya…
Mari kita asumsikan bahwa alami untuk malas cutloss karena menyakitkan. Tapi berbeda dengan slogan Body Shop, yang alami sangat tidak baik di dunia trading saham. Trader yang baik telah berhasil menggunakan otaknya untuk melakukan yang tidak alami. Kenapa kami bilang begitu? Karena dia tahu bahwa dengan cut losses short (walaupun sakit), dan let profits run (walaupun gatal), secara finansial dia akan lebih baik. Lama-lama dia akan kebal. Kalau menang dia tidak sombong dan buat pengumuman, kalau kalah pun dia tidak pasang wajah seram. Ini adalah kedewasaan pikiran seseorang dalam trading, yang cuma bisa didapatkan dari jam terbang.
Sebagai ilustrasi, anak kecil kalau disuruh gosok gigi sebelum tidur juga tidak mau, karena gosok gigi sebelum tidur itu tidak natural. Tapi karena dididik terus oleh orang tuanya, lama-lama dia mengerti dan melakukan hal yang tidak natural tersebut karena keuntungannya (tidak sakit gigi) jauh melebihi kerugiannya (lima menit sebelum tidur bergumul dengan odol). Lama-lama gosok gigi sebelum tidur menjadi second nature…
M. Scott Peck dalam sebuah buku self-help berjudul “The Road Less Travelled” pernah berujar, satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan disiplin. Salah satu alat disiplin adalah menunda pemuasan (delaying gratification). Kami tulis ulang, satu-satunya cara untuk mengatasi rugi di bursa saham adalah dengan disiplin. Let profits run adalah bentuk delaying gratification di bursa saham.
Jika cuma mengikuti ego, maka hasilnya adalah rugi banyak dan untung sedikit sebagai hasil dari cut profits short dan let losses run (cara alami, monyet juga bisa), bukannya rugi sedikit dan untung banyak dari cut losses short and let profits run! (yang benar yang kedua ya…)
Cutloss memang sakit, dan kita sering gatal untuk profit taking (untuk pamer dan traktir teman, istri, dan sahabat). Dan cutloss artinya mengakui “Saya salah!” Kadang ini yang sulit, terutama bagi pria. Tapi Anda harus sadar, Anda harus cepat-cepat cutloss, dan menunda merealisasikan keuntungan, karena cuma dengan begitu portofolio Anda akan terus naik dan tumbuh. Biarkan hal tersebut menjadi second nature Anda.
Hanya dengan begini, Anda akan jadi trader yang jadi pemenang, bukan monyet, dan bukan trader kebanyakan (85%) yang terus merugi. Baca juga: 2 Aturan Manajemen Modal yang Harus Anda Patuhi.
Salam cuan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar