Jumat, 11 Februari 2011

NILAI BUKU SAHAM

Nilai Buku Sebagai Pedoman Investasi

Senin, 14 April 2008 - 11:52 wib
Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI
Sudah membaca laporan keuangan emiten untuk tahun buku yang berakhir 2007 membaca sekaligus menganalisa laporan keuangan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seorang investor. Sebab, yang paling relevan bagi saham yang Anda beli adalah dengan melihat kinerja operasional perusahaan tersebut dalam setahun berjalan. Kalau memang bagus dan sesuai dengan harapan, tentunya sebagai investor akan tetap stay pada saham tersebut. Seperti yang kita pahami membeli saham adalah membeli prospek, bukan membeli harga saham pada saat ini.

Sebagaimana kebanyakan pakar investasi dan para analis mengatakan bahwa investasi pada instrumen efek yang bernama saham ini memang bukan investasi yang sekadar membeli lalu menjual, dengan hasil keuntungan berupa capital gain. Investor yang paham dan akan mengkombinasikan antara kondisi riil di pasar dengan kebutuhan dan tujuan investasinya di pasar modal. Itu artinya sebelum berinvestasi seorang investor perlu menetapkan terlebih dulu tujuan investasinya. Dan umumnya investasi di pasar modal sifatnya jangka panjang. Sebab, catatan historical investasi saham di bursa mana pun di seluruh dunia selalu mencatat bahwa dalam jangka panjang investor yang berinvestasi pada saham akan memperoleh return yang menguntungkan. Untuk itu sebelum berinvestasi perlu diyakinkan bahwa investasi yang dilakukan merupakan investasi dengan tujuan jangka panjang. Hal itu perlu dipastikan mengingat tidak jarang, investor yang mencoba "main-main" dalam investasi saham ini ternyata tidak sedikit yang harus tutup buku beberapa hari setelah ia memulai investasi.

Investor model ini boleh jadi kita samakan dengan sepekulator, tidak memiliki pedoman dalam investasi. Boleh jadi mereka hanya melihat pasar sebagai peluang untuk memperoleh income sesaat. Beli lalu jual. Pilihan saham yang menjadi sarana investasi juga tidak peduli. Saham A lagi ramai ikut membeli, lalu ikut menjual ketika ramai-ramai investor menjual. Yang begini biasanya tidak langgeng. Dan umumnya akan segera gulung tikar karena tidak memiliki tujuan investasi. Karenanya agar terhindar dari hal itu, investor perlu menetapkan tujuan dan pedoman investasinya. Dengan memiliki tujuan, dengan sendirinya ia akan memiliki pedoman dan konsep dalam berinvestasi. Kita tahu banyak konsep yang ditularkan para investor dalam berinvestasi saham. Trik dan strategi begitu mewarnai fluktuasi harga saham. Namun apapun alasannya tetap bahwa ilmu, trik dan strategi yang akan ditularkan itu tetap berdasarkan asumsi yang wajar dengan sumber yang sudah pasti yakni laporan keuangan. Kenapa mesti laporan keuangan yang menjadi pedoman?

Kalau investasi pada saham hanya berpedoman pada kondisi pasar rasanya kurang bijaksana. Sebab pasar tiap kali berubah, satu detik dari saat ini boleh jadi mengalami kenaikan, dan semenit kemudian boleh jadi turun. Kalau pasar yang diikuti dalam investasi tampak bahwa investor tidak akan optimal dalam menangguk untung. Karena itu pasar sebaiknya dijadikan acuan untuk memutuskan kebijakan investasi. Boleh jadi saham yang secara rill (nilai buku) harganya tinggi, tapi karena kondisi pasar yang buruk justru harganya menjadi murah. Jadi harga yang terbentuk oleh pasar sangat tidak logis. Dalam kondisi pasar yang turun seperti saat ini agaknya kondisi rill saham dengan kondisi pasar akan sangat jauh berbeda. Laporan keuangan, secara detail akan menjelaskan hal itu. Untuk itu bagi investor sebelum melakukan transaksi disarankan untuk melihat dulu mengenai laporan keuangan emiten yang sahamnya akan dibeli itu. Untuk melihat apakah kondisi harga riil (nilai buku) sebuah saham akan sama dengan nilai pasarnya, investor juga tidak perlu bersusah payah menganalisanya. Cukup melihat neraca (balanced sheet) bagian yang paling sederhana dari sebuah laporan keuangan. Sesuai asal kata neraca yang mencerminkan keseimbangan antara sisi Aktiva (Kekayaan) dan sisi Passiva (Kewajiban dan Ekuitas).

Dengan berpedoman pada neraca ini saja seorang investor sudah bisa menerka nilai rill dari sebuah saham. Neraca dibagi lagi dalam dua bagian besar yaitu aktiva (aset) yang merupakan sisi kekayaan dan investasi dari perusahaan, dan passiva yang berisikan kewajiban dan ekuitas yang merupakan daftar dari utang dan kewajiban perusahaan baik jangka pendek maupun panjang, serta investasi yang ditanam pemilik atau jumlah saham yang dikeluarkan (untuk perusahaan publik). Dalam sebuah neraca bisa dikelompokkan pada 5 bagian, yakni 2 bagian aktiva yaitu Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap dan 3 bagian Pasiva, yaitu Hutang Lancar, Hutang Jangka Panjang dan Ekuitas. Breakdowm lagi maka Aktiva lancar (Current Asset) merupakan kekayaan berupa harta likuid atau dapat digunakan untuk berinvestasi atau membayar utang dalam waktu dekat (biasanya di bawah satu tahun), contohnya adalah uang kas, deposito, investasi jangka pendek, barang jadi, dan piutang usaha. Aktiva Lancar disusun berurutan dari atas ke bawah berdasarkan likuiditasnya, atau urutan seberapa cepat asset tersebut bisa diubah menjadi uang. Sedangkan Aktiva Tetap (Fixed Asset) merupakan kekayaan berupa barang investasi yang tidak likuid atau tidak dapat diuangkan secara cepat tanpa menimbulkan penurunan dalam penilaiannya. Contohnya adalah tanah, gedung, kendaraan bermotor, mesin-mesin produksi, dan juga aktiva lain yang tidak berwujud seperti hak paten, royalti, dan hak merek. Sedangkan pada sisi passiva terdiri atas kewajiban Jangka Pendek (Current Liabilities) adalah kewajiban yang mesti dilunasi dalam jangka waktu satu tahun, contohnya adalah utang usaha, utang pajak, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Kewajiban Jangka Panjang (Long Term-Liabilities) merupakan kewajiaban yang jatuh tempo di atas satu tahun contohnya adalah utang bank, utang obligasi, utang sewa guna usaha, dan lain-lain. Sedangkan Ekuitas (Shareholders Equity) terdiri dari modal saham, tambahan modal disetor, dan laba ditahan. Kalau kita sederhanakan seluruh pos yang ada dalam aktiva itu (aktiva tetap dan aktiva lancar) adalah total asset (TA) sedangkan seluruh pos yang ada dalam passiva menjadi total utang (TU) maka dapat diketahui berapa nilai buku dari saham emiten itu. Caranya yakni dengan membagi hasil pengurangan total aktiva dengan total utang dengan jumlah saham yang beredar (ekuitas). Namun yang perlu diingat bahwa hasil bagi tersebut belum dapat dikatakan sebagai nilai riil dari saham, sebab mungkin saja hasil bagi justru lebih rendah atau lebih tinggi. Untuk itu perlu diketahui bentuk aset yang dimiliki emiten tersebut, kalau lebih banyak berbentuk properti, gedung, tanah dan sebagainya bisa jadi nilai riilnya akan bertambah besar lagi (perlu dketahui pencatatan akun atas aktiva tetap tersebut dibuat sesuai dengan tahun terakhir laporan keuangan dibuat) hal inilah yang menyebabkan kalau total aktiva itu dinilai ulang (revitalisasi) besar kemungkinan harganya menjadi lebih tinggi lagi.

Belum lagi dari aset-aset tak berwujud lainnya seperti merek (branded) yang tentunya tidak bisa dihitung secara uang, karena bersifat goodwill. Karena sifat aktiva yang variatif itu, kendati nilai bukunya rendah investor saham tetap memberikan nilai lebih atas harga saham emiten di pasar, begitu pula sebaliknya. Karena itu nilai buku sebuah perusahaan layak untuk diketahui oleh investor saham karena dengan mengetahui nilai buku ini investor bisa mengetahui apakah harga saham yang dibentuk pasar adalah undervalued atau overvalued, sehingga dalam menentukan pilihan investasi investor selalu memiliki pedoman dan tidak akan terombang-ambing oleh kondisi pasar. (tim bei) (//mbs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar