Jumat, 11 Februari 2011

HARGA PASAR SAHAM

Faktor yang mempengaruhi pergerakan harga pasar saham ; Faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham menurut Weston dan Brigham (1993:26-27) adalah proyeksi laba per lembar saham, saat diperoleh laba, tingkat resiko dari proyeksi laba, proporsi utang perusahaan terhadap ekuitas, serta kebijakan pembagian deviden. Faktor lainnya yang dapat mempengarahi pergerakan harga saham adalah kendala eksternai seperti kegiatan perekonomian pada umumnya, pajak dan keadaan bursa saham.

Investasi haras henar-benar menyadari bahwa di samping akan memperoleh keuntimgan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisis keadaan harga saham rnerapakan penilaian sesaat yang dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk diantaranya kondisi [performance) dari perusahaan, kendala-kendala eksteraal, kekuatan penawaran dan permintaan saham di pasar, serta kemampuan investor dalam menganalisis investasi saham. Menurut Sawidji (1996:81) : "Faktor utama yang menyebabkan harga saham
adalah persepsi yang berbeda dari masing-masing investor sesuai dengan informasi yang didapat".

Saham merupakan representasi kepemilikan kita atas suatu perusahaan. Logikanya, harga saham akan mengikuti kinerja perusahaan. Harga saham akan sesuai dengan nilai dari perusahaan tersebut.

Kenyataannya sering tidak seperti itu. Masing-masing investor memiliki persepsi masing-masing mengenai nilai suatu perusahaan. Persepsi investor inilah yang terwujud dalam transaksi suatu saham. Oleh karenanya sering harga saham tidak mencerminkan kinerja suatu perusahaan.

Alasan itulah yang menjadikan banyak orang yang memilih jalur sebagai trader Technical analysis tidak sekedar membaca chart dan indikator. Lebih jauh daripada itu, seorang trader harus mampu menerjemahkan psikologi para investor yang terlihat dalam chart.

Kebanyakan teori mengenai investasi didasarkan pada sebuah asumsi bahwa pelaku pasar akan bertindak secara rasional dalam mengambil keputusan. Asumsi ini pula yang melahirkan teori pasar efisien. Katakanlah saham A dan B saat ini diperdagangkan pada harga yang sama, yaitu Rp 1.000,00. Berdasarkan penilaian kita, harga saham A seharusnya bernilai Rp 1.400,00, sedangkan harga saham B berdasarkan metode yang sama seharusnya harganya hanya Rp 800,00.

Sebagai seorang investor yang rasional, tentu saja kita akan memutuskan untuk membeli saham A yang harganya berpotensi untuk naik sebesar 40% dan tidak membeli saham B karena harganya sudah terlalu mahal. Apa yang terjadi? Setelah kita membeli sejumlah saham A, ternyata harganya turun menjadi Rp 900,00. Saham yang kita rasakan terlalu mahal malah naik menjadi Rp 1.300,00. Aneh bukan? Sekali lagi saya katakan, Anda tidak sendirian. Banyak sekali investor yang pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin Anda akan bertanya, kalau memang harga suatu saham tidak bisa diprediksi, apa gunanya kita melakukan analisis yang rumit untuk mengambil keputusan membeli atau menjual suatu saham? Toh, harganya tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

NILAI BUKU SAHAM

Nilai Buku Sebagai Pedoman Investasi

Senin, 14 April 2008 - 11:52 wib
Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI
Sudah membaca laporan keuangan emiten untuk tahun buku yang berakhir 2007 membaca sekaligus menganalisa laporan keuangan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seorang investor. Sebab, yang paling relevan bagi saham yang Anda beli adalah dengan melihat kinerja operasional perusahaan tersebut dalam setahun berjalan. Kalau memang bagus dan sesuai dengan harapan, tentunya sebagai investor akan tetap stay pada saham tersebut. Seperti yang kita pahami membeli saham adalah membeli prospek, bukan membeli harga saham pada saat ini.

Sebagaimana kebanyakan pakar investasi dan para analis mengatakan bahwa investasi pada instrumen efek yang bernama saham ini memang bukan investasi yang sekadar membeli lalu menjual, dengan hasil keuntungan berupa capital gain. Investor yang paham dan akan mengkombinasikan antara kondisi riil di pasar dengan kebutuhan dan tujuan investasinya di pasar modal. Itu artinya sebelum berinvestasi seorang investor perlu menetapkan terlebih dulu tujuan investasinya. Dan umumnya investasi di pasar modal sifatnya jangka panjang. Sebab, catatan historical investasi saham di bursa mana pun di seluruh dunia selalu mencatat bahwa dalam jangka panjang investor yang berinvestasi pada saham akan memperoleh return yang menguntungkan. Untuk itu sebelum berinvestasi perlu diyakinkan bahwa investasi yang dilakukan merupakan investasi dengan tujuan jangka panjang. Hal itu perlu dipastikan mengingat tidak jarang, investor yang mencoba "main-main" dalam investasi saham ini ternyata tidak sedikit yang harus tutup buku beberapa hari setelah ia memulai investasi.

Investor model ini boleh jadi kita samakan dengan sepekulator, tidak memiliki pedoman dalam investasi. Boleh jadi mereka hanya melihat pasar sebagai peluang untuk memperoleh income sesaat. Beli lalu jual. Pilihan saham yang menjadi sarana investasi juga tidak peduli. Saham A lagi ramai ikut membeli, lalu ikut menjual ketika ramai-ramai investor menjual. Yang begini biasanya tidak langgeng. Dan umumnya akan segera gulung tikar karena tidak memiliki tujuan investasi. Karenanya agar terhindar dari hal itu, investor perlu menetapkan tujuan dan pedoman investasinya. Dengan memiliki tujuan, dengan sendirinya ia akan memiliki pedoman dan konsep dalam berinvestasi. Kita tahu banyak konsep yang ditularkan para investor dalam berinvestasi saham. Trik dan strategi begitu mewarnai fluktuasi harga saham. Namun apapun alasannya tetap bahwa ilmu, trik dan strategi yang akan ditularkan itu tetap berdasarkan asumsi yang wajar dengan sumber yang sudah pasti yakni laporan keuangan. Kenapa mesti laporan keuangan yang menjadi pedoman?

Kalau investasi pada saham hanya berpedoman pada kondisi pasar rasanya kurang bijaksana. Sebab pasar tiap kali berubah, satu detik dari saat ini boleh jadi mengalami kenaikan, dan semenit kemudian boleh jadi turun. Kalau pasar yang diikuti dalam investasi tampak bahwa investor tidak akan optimal dalam menangguk untung. Karena itu pasar sebaiknya dijadikan acuan untuk memutuskan kebijakan investasi. Boleh jadi saham yang secara rill (nilai buku) harganya tinggi, tapi karena kondisi pasar yang buruk justru harganya menjadi murah. Jadi harga yang terbentuk oleh pasar sangat tidak logis. Dalam kondisi pasar yang turun seperti saat ini agaknya kondisi rill saham dengan kondisi pasar akan sangat jauh berbeda. Laporan keuangan, secara detail akan menjelaskan hal itu. Untuk itu bagi investor sebelum melakukan transaksi disarankan untuk melihat dulu mengenai laporan keuangan emiten yang sahamnya akan dibeli itu. Untuk melihat apakah kondisi harga riil (nilai buku) sebuah saham akan sama dengan nilai pasarnya, investor juga tidak perlu bersusah payah menganalisanya. Cukup melihat neraca (balanced sheet) bagian yang paling sederhana dari sebuah laporan keuangan. Sesuai asal kata neraca yang mencerminkan keseimbangan antara sisi Aktiva (Kekayaan) dan sisi Passiva (Kewajiban dan Ekuitas).

Dengan berpedoman pada neraca ini saja seorang investor sudah bisa menerka nilai rill dari sebuah saham. Neraca dibagi lagi dalam dua bagian besar yaitu aktiva (aset) yang merupakan sisi kekayaan dan investasi dari perusahaan, dan passiva yang berisikan kewajiban dan ekuitas yang merupakan daftar dari utang dan kewajiban perusahaan baik jangka pendek maupun panjang, serta investasi yang ditanam pemilik atau jumlah saham yang dikeluarkan (untuk perusahaan publik). Dalam sebuah neraca bisa dikelompokkan pada 5 bagian, yakni 2 bagian aktiva yaitu Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap dan 3 bagian Pasiva, yaitu Hutang Lancar, Hutang Jangka Panjang dan Ekuitas. Breakdowm lagi maka Aktiva lancar (Current Asset) merupakan kekayaan berupa harta likuid atau dapat digunakan untuk berinvestasi atau membayar utang dalam waktu dekat (biasanya di bawah satu tahun), contohnya adalah uang kas, deposito, investasi jangka pendek, barang jadi, dan piutang usaha. Aktiva Lancar disusun berurutan dari atas ke bawah berdasarkan likuiditasnya, atau urutan seberapa cepat asset tersebut bisa diubah menjadi uang. Sedangkan Aktiva Tetap (Fixed Asset) merupakan kekayaan berupa barang investasi yang tidak likuid atau tidak dapat diuangkan secara cepat tanpa menimbulkan penurunan dalam penilaiannya. Contohnya adalah tanah, gedung, kendaraan bermotor, mesin-mesin produksi, dan juga aktiva lain yang tidak berwujud seperti hak paten, royalti, dan hak merek. Sedangkan pada sisi passiva terdiri atas kewajiban Jangka Pendek (Current Liabilities) adalah kewajiban yang mesti dilunasi dalam jangka waktu satu tahun, contohnya adalah utang usaha, utang pajak, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Kewajiban Jangka Panjang (Long Term-Liabilities) merupakan kewajiaban yang jatuh tempo di atas satu tahun contohnya adalah utang bank, utang obligasi, utang sewa guna usaha, dan lain-lain. Sedangkan Ekuitas (Shareholders Equity) terdiri dari modal saham, tambahan modal disetor, dan laba ditahan. Kalau kita sederhanakan seluruh pos yang ada dalam aktiva itu (aktiva tetap dan aktiva lancar) adalah total asset (TA) sedangkan seluruh pos yang ada dalam passiva menjadi total utang (TU) maka dapat diketahui berapa nilai buku dari saham emiten itu. Caranya yakni dengan membagi hasil pengurangan total aktiva dengan total utang dengan jumlah saham yang beredar (ekuitas). Namun yang perlu diingat bahwa hasil bagi tersebut belum dapat dikatakan sebagai nilai riil dari saham, sebab mungkin saja hasil bagi justru lebih rendah atau lebih tinggi. Untuk itu perlu diketahui bentuk aset yang dimiliki emiten tersebut, kalau lebih banyak berbentuk properti, gedung, tanah dan sebagainya bisa jadi nilai riilnya akan bertambah besar lagi (perlu dketahui pencatatan akun atas aktiva tetap tersebut dibuat sesuai dengan tahun terakhir laporan keuangan dibuat) hal inilah yang menyebabkan kalau total aktiva itu dinilai ulang (revitalisasi) besar kemungkinan harganya menjadi lebih tinggi lagi.

Belum lagi dari aset-aset tak berwujud lainnya seperti merek (branded) yang tentunya tidak bisa dihitung secara uang, karena bersifat goodwill. Karena sifat aktiva yang variatif itu, kendati nilai bukunya rendah investor saham tetap memberikan nilai lebih atas harga saham emiten di pasar, begitu pula sebaliknya. Karena itu nilai buku sebuah perusahaan layak untuk diketahui oleh investor saham karena dengan mengetahui nilai buku ini investor bisa mengetahui apakah harga saham yang dibentuk pasar adalah undervalued atau overvalued, sehingga dalam menentukan pilihan investasi investor selalu memiliki pedoman dan tidak akan terombang-ambing oleh kondisi pasar. (tim bei) (//mbs)

CANDLESTICK PATTERN

The Bullish Candlestick Formations 
Ini semua adalah Bullish pattern. Beberapa diantaranya menandakan strong bullish pattern. Sedikit panduan sederhana, apabila ditemukan formasi-formasi berikut maka kemungkinan yang terjadi adalah sebuah trend bullish akan segera terjadi.


Hammer – Anda pasti dapat menduga mengapa disebut hammer. Hammer terjadi setelah trend menurun yang kuat. Jika terjadi setelah trend menguat yang tajam maka disebut hanging man. Bentuknya seperti bullish pattern dengan lowest price yang dalam serta tidak memiliki highest price.
Piercing Line – Candle pertama adalah bear candle yang panjang diikuti bull candle yang juga panjang. Bull candle muncul dibawah bear candle tetapi tidak sampai separuh dari bear candle.
Bullish Engulfing Lines – Merupakan bullish pattern yang kuat dan terjadi setelah downtrend yang cukup besar (dan biasanya merupakan trend balik / reverse). Terjadi ketika bearish kecil disusul bullish yang besar.
Morning Star – Pattern seperti ini menandakan harga telah mencapai titik bawah (support) yang potensial. Munculnya star (candle yang ditengah) mengindikasikan akan terjadi trend balik bila diikuti bullish pada candle berikutnya. Star dapat berupa bull candle atau bear candle.
 Bullish Doji Star – Star seperti ini menunjukan trend balik yang sifatnya masih tidak pasti. Jika tidak ada indikator pendukung lainnya yang memastikan trend akan berlangsung, disarankan untuk wait and see terlebih dahulu.
Long Bearish Candle – Bearish candle terjadi ketika harga dibuka dekat pada highest price dan ditutup dekat pada lowest price.
Hanging Man – Terjadi setelah uptrend yang signifikan. Terdiri dari dua candle dengan lowest price yang jauh kebawah tanpa highest price. Pattern seperti ini adalah kebalikan dari hamer pada bullish candlestick formation.
Dark Cloud Cover – Merupakan bearish pattern . Akan lebih kuat pengaruhnya apabila candle kedua muncul dibawah dari bullish candle pertama.
Bearish Engulfing Lines – Merupakan bearish pattern yang cukup kuat apabila terjadi setelah uptrend dan merupakan reverse pattern. Terjadi setelah bullish candle kecil diikuti bearish candle yang besar.
Evening Star – Menunjukan bahwa harga sudah mencapai titik  resistance point-nya. Star (candle yang ditengah) menunjukkan kemungkinan terjadi trend balik berupa bearish. Star dapat berupa bear candle atau pun bull candle.
Doji Star – Seperti pada bullish doji star, demikian doji star seperti ini menunjukan bearish trend dengan periode yang tidak pasti. Diperlukan penguat seperti evening star untuk memastikannya.
Shooting Star – Merupakan trend balik minor. Star harus memiliki highest price yang cukup panjang untuk dapat dikatakan shooting star.

Neutral Candlestick Formations 

Formasi candlestick netral tidak menunjukkan uptrend maupun downtrend. Untuk keadaan seperti ini disarankan wait and see.

Spinning Tops – Benar-benar simetris dan jarak antar open dan close tidak terlalu besar. Tidak ada kepastian apa yang akan terjadi setelahnya.
Doji – Seperti Doji pada formasi bullish atau pun bearish. Posisi seperti ini menandakan ketidak pastian trend yang akan terjadi serta periodenya.
Double Doji – Nah untuk model double doji seperti ini kemungkinan yang akan terjadi adalah “breakout” untuk ketidak pastian yang terjadi. Namun demikian model breakout yang akan terjadi tetap tidak dapat dipastikan dari hanya formasi ini. Harus ada pendukung lainnya.
Harami – Model seperti ini mengindikasikan berkurangnya momentum trend yang akan segera diikuti berakhirnya trend. Terdiri dari candle dengan ukuran yang lebih kecil berada ditengah-tengah candle yang lebih besar sebelumnya. Pada contoh disamping menandakan berakhirnya bullish trend karena bullish disusul oleh bearish candle yang lebih kecil.

Reversal Candlestick Formations 
Nah, formasi ini khusus untuk trend balik / reversal.

Long-legged Doji –Sering menunujukkan titik balik. Terjadi ketika open dan closing price adalah sama dengan highest dan lowest price relatif besar.
Dragonfly Doji – Juga merupakan titik balik. Hanya saja disini menunjukkan bahwa lowest price-nya jauh lebih besar dibanding highest price.
Gravestone Doji – Open dan close serta lowest price adalah sama. Sementara highest price jauh meninggi.
Stars – Nah ini adalah bintang reverse. Posisinya berada diatas dari candle sebelumnya yang berjenis sama. Seperti pada formasi lainnya, kondisi seperti ini menunjukkan reversal trend mungkin terjadi.

Setelah saya bentangkan begitu banyak formasi, pastilah timbul pertanyaan dalam diri Anda: Ada begini banyak formasi, bagaimana dapat saya gunakan secara efektif untuk digunakan dalam ber-trading?

Jawabannya sederhana (meski tidak semudah menuliskannya disini). Sering-seringlah digunakan dan melihat referensi!! Itu saja, maka Anda akan terbiasa. Saya sendiri sejujurnya (jujur nih…J) tidak hafal semua formasi yang ada. Hanya beberapa yang saya anggap penting saja. Dan yang perlu diingat, konfirmasi hanya dengan membaca formasi seringkali menimbulkan false signal. Perlu dukungan yang lebih kuat dengan keberadaan indikator lainnya. Hal lainnya lagi, indikasi yang diberikan dalam candlestick formation biasanya hanyalah memberikan indikasi trend dalam jangka waktu yang sangat pendek (tidak lebih dari 7 candle). Sulit menentukan trend dalam jangka waktu panjang dengan candlestick.

Sabtu, 05 Februari 2011

PROSPEKTUS SAHAM


PROSPEKTUS

Prospektus merupakan informasi atau dokumen penting dalam proses penawaran umum, baik saham maupun obligasi. Dalam prospektus terdapat banyak informasi yang berhubungan dengan keadaan perusahaan yang melakukan penawaran umum.
Penawaran Perdana Saham atau Initial Public Offering merupakan kegiatan yang dilakukan emiten untuk menjual saham baru kepada masyarakat umum. Emiten berharap semua saham yang lepas ke publik dapat terserap sepenuhnya sehingga target pendapatan yang diharapkan dapat terpenuhi. Sebaliknya, para pemodal berharap mendapatkan keuntungan dengan membeli saham tersebut, baik berupa dividen, capital gain, maupun hak-hak lain sebagai pemegang saham.
Dengan adanya prospektus, pemodal mendapatkan seluruh informasi penting dan relevan sehubungan dengan kegiatan penawaran tersebut sehingga pemodal dapat mengambil keputusan investasi secara tepat.
Beberapa bagian penting dari Prospektus yang perlu diperhatikan calon investor:
* Jumlah saham yang ditawarkan
Bila perusahaan menawarkan saham, maka informasi mengenai jumlah saham yang akan ditawarkan juga perlu diketahui oleh calon investor, karena jumlah saham yang ditawarkan menunjukkan berapa besar bagian dari modal disetor yang akan dimiliki publik. Semakin banyak jumlah saham yang ditawarkan, maka perdagangan saham tersebut akan semakin likuid di Bursa.
* Nilai nominal dan harga penawaran
Nilai nominal adalah nilai yang tertera pada surat saham yang akan dicantumkan pada setiap saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Harga saham yang akan ditawarkan bisa berbeda dengan nilai nominal saham. Harga saham yang ditawarkan disebut harga penawaran.
* Bidang usaha
Informasi mengenai bidang usaha yang saat ini dijalankan oleh perusahaan perlu diketahui oleh calon investor, dengan informasi tersebut kita dapat pula mengetahui perusahaan tersebut berada pada sektor industrinya, potensi pertumbuhan, tingkat persaingan, resiko bisnis yang ada dan informasi penting lainnya yang menyangkut bidang usaha emiten tersebut.
* Riwayat singkat Perusahaan
Informasi ini memberikan keterangan tentang riwayat singkat pendirian perusahaan tersebut, sehingga calon investor dapat mengetahui sudah berapa lama perusahaan tersebut didirikan dan beroperasi.
* Tujuan go public (rencana penggunaan dana)feature 247x300 PROSPEKTUS
Rencana penggunaan dana yang diperoleh dari penawaran umum diberikan secara persentasi dari kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
* Kegaiatan dan prospek usaha
Pada dasarnya seorang investor yang membeli saham adalah membeli prospek usaha dari perusahaan tersebut. Karena itu kegiatan dan prospek usaha dari perusahaan tersebut termasuk anak perusahaannya perlu diketahui oleh calon investor.
* Resiko usaha
Setiap investasi tidak terlepas dari resiko yang mungkin dihadapi. Untuk itu calon investor haruslah mengetahui kemungkinan resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
* Kebijakan dividen
Informasi yang diberikan dalam bentuk rentang jumlah persentase dividen tunai yang direncanakan yang dikaitkan dengan jumlah laba bersih.
* Kinerja keuangan perusahaan
Dengan mengetahui data keuangan masa lalu, maka dapat dibuat suatu perkiraan (analisa trend) untuk tahun-tahun berikutnya. Paling tidak calon investor mengetahui perkembangan keuangan perusahaan lima tahun terakhir.
*Agen-agen penjual
Agen penjual merupakan perusahaan-perusahaan efek yang ditunjuk oleh penjamin emisi untuk bertindak selaku agen penjual dalam rangka memasarkan saham-saham yang ditawarkan pada penawaran umum. Investor yang akan melakukan pemesanan saham harus menghubungi agen-agen tersebut.

KAMUS SAHAM


Kamus

Anda bingung bahasa yang digunakan oleh komunitas saham atau kami di Pojok Saham?  Jangan lagi, karena kami di sini akan membantu Anda mengerti bahasa saham dengan Kamus Bahasa Saham ala Pojok Saham.  Di sini akan kami daftarkan secara alfabetis kata-kata yang sering digunakan komunitas saham.  Jika ada yang ingin Anda tambahkan atau tanyakan, isikan di komentar di bawah, nanti akan kami update secara berkala.  Cara mencarinya yang mudah, tekan ctrl+f sekarang, dan ketik kata yang Anda cari.  Cobalah sekarang!

A

Akumulasi, tindakan membeli suatu saham di harga tertentu secara berulang kali, “menumpuk” saham tersebut untuk dijual nanti di harga lebih tinggi.

B

Bapepam, Badan Pengawas Pasar Modal.  Ini polisinya Bursa Efek Indonesia.
Bearish, kondisi bursa saham dengan kecenderungan (trend) turun.  Asal katanya, bear alias beruang digunakan karena saat akan menyerang, berdiri dulu sebelum menerkam ke bawah.  Ini adalah kondisi yang buruk dan dibenci oleh investor saham di Indonesia (karena tidak bisa short).  Lawannya adalah bullish.
Bid, penawaran harga yang diajukan oleh pembeli saham.  Lawannya adalah offer.
Big Caps, big capitalization, saham berkapitalisasi besar, artinya nilai saham ini besar dibandingkan dengan nilai saham lainnya di Bursa Efek Indonesia.
Bluechips, saham unggulan berkapitalisasi besar, memiliki likuiditas tinggi dan penggerak pasar.  Pergerakan harganya biasanya relatif mudah diramalkan.  Ini harus mengisi bagian besar dalam portofolio Anda.  Lawannya adalah penny stock atau saham gorengan.
Break Out, gerakan harga ketika menembus resistance dengan volume cukup besar.
Broker, individu atau sekuritas yang menjadi perantara dalam jual beli saham.
Bullish, kondisi bursa saham dengan kecenderungan (trend) naik.  Asal katanya, bull alias banteng digunakan karena saat akan menyerang, menyeruduk ke depan.  Ini adalah kondisi yang baik dan sangat disukai oleh investor saham di Indonesia.  Lawannya adalah bearish.
Buyback, beli kembali, aksi emiten membeli kembali saham yang beredar di pasar.

C

Capital Gain, keuntungan yang diperoleh dari selisih jual beli dalam perdagangan saham.
Closing Price, harga penutupan pada satu hari bursa (jam 4 sore).
Crossing, transaksi jual beli yang dilakukan oleh anggota bursa yang sama.
Custody, pihak yang menyimpang surat-surat berharga yang diperdagangkan.
Cut Loss, tindakan menjual saham pada posisi merugi.

D

Delisting, penghapusan saham suatu perusahaan dari Bursa Efek Indonesia sehingga tidak dapat diperdagangkan kembali.
Derivatif, instrumen investasi turunan dari saham seperti option atau opsi.
Dilusi, pengurangan proporsi kepemilikan pemegang saham pada suatu emiten.
Disclaimer, pernyataan penolakan bertanggung jawab atas resiko investasi yang mungkin terjadi.
Diversifikasi, cara berinvestasi dengan menempatkan dana pada beragam instrumen investasi untuk meminimalisasi kerugian.
Divestasi, pelepasan atau penjualan saham perusahaan.
Dividen, pembagian laba bersih perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
Dual Listing, pencatatan saham pada lebih dari satu bursa contohnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA).

E

Earning Per Share (EPS), laba bersih per saham suatu perusahaan.
Efeksemua surat berharga yang memiliki nilai uang seperti obligasi, saham, dan unit penyertaan reksadana.
Emiten, perusahaan yang menerbitkan saham kepada masyarakat umum melalui mekanisme penawaran perdana atau IPO (Initial Public Offering).

F

Financial Statement, laporan keuangan yang diterbitkan secara berkala yang menyajikan kondisi perusahaan seperti neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan ekuitas.
Floor Trading, lantai bursa tempat berlangsungnya transaksi jual beli saham secara konvensional.  Sekarang lebih banyak digantikan Electronic Trading atau JATS.
Fluktuasi, pergerakan harga saham yang naik turun.
Forced Sell, pemaksaan jual efek saham sebagai solusi gagal bayar.

G

H

Harga Nominal, harga saham yang ditetapkan oleh emiten.
Harga Pasar, harga terakhir yang tercatat di bursa.
Harga Perdana, harga pertama kali suatu efek atau saham ditawarkan kepada publik.
Hedging, lindung nilai dengan cara memasang posisi berlawanan biasanya di pasar derivatif.
Holding Company, perusahaan induk yang memiliki saham di perusahaan lain sehingga bisa mengendalikan manajemen perusahaan tersebut.

I

Indeks, nilai sekelompok saham digabungkan dengan rasio tertentu.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indeks pergerakan harga seluruh saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Insider Trading, transaksi berdasarkan bocoran orang dalam seperti komisaris, direksi, dan pemilik saham mayoritas.
IPO (Initial Public Offering), penawaran perdana, pencatatan saham suatu perusahaan terbuka pertama kali di bursa saham dan dapat diperdagangkan oleh publik.

J

JATS (Jakarta Automatic Trading System), sistem perdagangan saham secara otomatis dengan menggunakan komputer di Bursa Efek Indonesia.  Dikenal dengan nama lain Electronic Trading.  Lawannya adalah floor trading.

K

Kapitalisasi Pasar, nilai seluruh saham suatu emiten, dihitung dengan harga saham perusahaan sekarang dikalikan dengan jumlah saham yang beredar.
Kliring, penentuan hak dan kewajiban yang timbul dari transaksi.

L

Likuiditas, karakteristik suatu saham yang sangat mudah untuk diperjualbelikan.
Listed Company, sama dengan emiten.
Lot, satuan dalam perdagangan saham, yaitu 500 lembar saham.
LQ45, Liquiditas 45, indeks penggerak pasar di Bursa Efek Indonesia yang terbentuk dari 45 saham yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar.  Dievaluasi setiap enam bulan.

M

Manajer Investasi, pihak yang mengelola portofolio dari investor.
Market Maker, pelaku pasar yang bisa mengendalikan pergerakan harga saham tertentu.  Kata lainnya adalah bandar.
Merger, penggabungan perusahaan.

N

O

Odd Lot, perdagangan saham di bawah 500 lembar.
Offer, harga penawaran jual suatu saham oleh penjual.  Lawannya adalah bid.
Open Price, harga pembukaan suatu saham dalam satu hari perdagangan (pukul 9.30 pagi, kecuali ada pre-market).
Option, opsi atau hak untuk membeli atau menjual suatu saham pada harga tertentu dalam jangka waktu yang tertentu juga, termasuk instrumen derivatif.

P

Pojok Saham, situs web tercinta Anda untuk saham.
Portofolio, sekumpulkan surat berharga (saham, obligasi, sertifikat deposito, ORI) yang diperdagangkan di bursa secara regular.
Profit Taking, aksi jual untuk ambil untung oleh investor atau trader atas sahamnya yang harganya sudah naik.  Lawannya adalah cut loss (jual rugi).
Prospektus, informasi tertulis sehubungan dengan penawaran umum.

Q

Quote, harga terakhir yang ditawarkan.

R

Return, imbah hasil investasi.

Right Issue, penawaran umum saham terbatas pada harga tertentu kepada pemilik saham lama.  Menyebabkan dilusi.

S

Saham, surat berharga kepemilikan suatu perusahaan terbuka yang dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Saham Bonus, penerbitan saham baru untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada pemilik saham.
Saham Gorengan, atau dikenal dengan penny stock, saham yang diperdagangkan atas dasar rumor.  Gerakan harganya tidak terkendali dan sulit ditebak.  Awas terjebak!
Saham Tidur, saham yang tidak aktif diperdagangkan.  Bisa juga dengan cepat menjadi saham gorengan.
Sekuritas, perusahaan perantara jual beli saham di Bursa Efek Indonesia.  Sama dengan broker.
Short Selling, fasilitas menjual saham tanpa memiliki sahamnya dengan menjual saham investor lain.  Jadi, jual dulu, baru beli kemudian.  Untung didapat jika harga saham jatuh.  Di Indonesia sampai saat ini resminya belum bisa.
Sideways, pergerakan harga saham yang naik atau turun sedikit saja sehingga seolah-olah berjalan di tempat.
Stock Split, pemecahan setiap unit saham sehingga menambah jumlah saham yang beredar.
Strong Uptrend, trend naik yang kuat.
Suspend, penghentian sementara pedagangan suatu saham atau bursa.

T

Trailing Stop, level jual sebagai jagaan ketika harga sudah naik. Ditaruh di support paling baru yang terbentuk. Trailing Stop gerakannya selalu naik, tidak boleh turun.
Trend, kecenderungan pergerakan harga saham atau indeks secara umum.  Ada tiga, yaitu, bullish (naik), bearish (turun), dan sideways (datar).

U

Undervalued, saham yang diperdagangkan harganya di bawah nilai wajar yang ditentukan oleh analis.
Uptrend, trend naik. Kecenderungan harga untuk terus naik.

V

W

Window Dressing, upaya mempercantik kinerja perusahaan dengan menaikkan harga saham, laporan keuangan yang biasanya dilakukan pada akhir tahun atau semester.

X

Y

Z